28 November 2007

indon bangga dengan TKI (bangsa kuli)

KOMPAS Sabtu, 09 Juni 2007
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/09/Fokus/3588000.htm

"Pahlawan Devisa"

Kalau boleh memilih, tenaga kerja Indonesia tentu lebih senang mencari nafkah di negeri sendiri dengan gaji yang layak dan suasana kerja yang menyenangkan. Namun, tuntutan ekonomi yang makin mendesak serta sulitnya mendapat pekerjaan di dalam negeri memaksa mereka mencari nafkah ke negeri orang dengan meninggalkan keluarga dan orang-orang yang dikasihi.

Nasib mereka tak selalu mujur di negeri orang. Sebagian meraih sukses, tetapi tak sedikit yang harus menanggung siksa dan derita. Bahkan, tak terhitung yang harus meregang nyawa di negeri seberang.

Sesuatu yang pasti, di dalam negeri mereka menjadi obyek pemerasan dengan beragam alasan. Julukan ”Pahlawan Devisa” hanya sekadar penghibur untuk perjuangan yang mereka lakukan. (THY)

Pahlawan Devisa yang Sering Teraniaya
http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A678_0_3_0_M

Kalau guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, sekalipun gajinya kecil, TKW dan TKI jarang dipandang sebagai manusia terhormat, jika bukan malah dicibirkan. Lihatlah mereka antre di bandara dalam jumlah ratusan yang mau berangkat ke tanah rantau demi sesuap nasi.

Laki-laki dan perempuan sama saja, antre dengan sopan menanti giliran untuk masuk ke ruang tunggu sebelum terbang meninggalkan Tanah Air yang mereka cintai. Di antara mereka ada yang harus meninggalkan anak dan suami, semata-mata karena negeri ini tidak mampu membukakan lapangan kerja buat mereka. Inilah sebuah negeri bak pepatah mengatakan: “Itik berenang dalam air, mati kehausan; ayam bertelur di atas padi, mata kelaparan.”

Kita bisa membayangkan betapa berat perasaan mereka berpisah, tetapi itulah garis retak tangan yang harus dijalaninya. Bangsa ini masih terseok dalam menghidupi rakyatnya sendiri karena perbuatan salah urus dan korupsi telah demikian menggurita dalam tempo yang panjang. Di depan beberapa forum saya sering mengatakan: “Yang lumpuh adalah akal sehat; yang lumpuh adalah hati nurani.” Akal sehat dan hati nurani yang tidak berfungsi inilah sebenarnya yang menjadi pangkal utama mengapa sebagian kita harus mengais rezeki ke bumi lain dengan segala risiko yang harus ditanggung.

Bukan tidak baik mencari penghidupan di negara lain. Tetapi, kalau kita berbicara tentang TKW dan TKI, di situ terlihat sebuah keterpaksaan. Di antara mereka banyak yang beruntung, dapat membangun kehidupan keluarga yang lebih cerah di kampungnya masing-masing setelah pulang, sementara sebagian TKW menjadi korban penindasan dan perkosaan.

Pemerintah kita belum maksimal melindungi mereka yang bernasib malang itu. Itu belum lagi kelakuan sebagian para cukong, domestik atau asing, yang bersikap kasar dan seenaknya saja memperlakukan para pekerja ini. Tidak jarang pula terjadi dalam perjalanan pulang dari rantau, masih ada saja manusia biadab yang merampok harta mereka di bandara atau dalam perjalanan ke desa. Panorama buram ini masih akan berkelanjutan selama para TKW dan TKI ini tidak mendapat perlindungan dan penghormatan wajar sebagai manusia penuh oleh aparat hukum kita.

Mengapa tulisan ini bernada marah ketika membicarakan TKW dan TKI ini? Karena saya memandang mereka sebagai pahlawan devisa yang sangat berjasa, tetapi sering telantar. Mereka turut membantu negara yang masih oleng ini dalam menghadapi banyak masalah keuangan. Data di bawah akan menjelaskan apa yang saya maksud tentang betapa mulianya para pekerja ini bagi kepentingan bangsa.

Harian Republika, 22 Februari 2006, halaman 23, memuat keterangan Wakil Menteri SDM Malaysia, Datuk Abdul Rahman Bakar, tentang triliunan devisa yang masuk ke Indonesia setiap tahun dari para TKW-TKI ini. Ini baru dari negeri jiran. Bagaimana pula dari Arab, Korea, Hong Kong, Eropa, Amerika, dan dari negara lain. Menurut Bakar, pada tahun 2005 saja para pekerja asing telah mentransfer 5 miliar ringgit ke negeri asalnya. Dari sekitar 3 juta pekerja legal atau sebaliknya, 80 persen berasal dari Indonesia.

Jadi, jika dihitung devisa yang masuk tahun lalu ke negeri kita adalah sekitar 80 persen, dikalikan 5 miliar ringgit (sekitar Rp 11,5 triliun), sama dengan Rp 7,6 triliun. Coba bayangkan betapa besarnya sumbangan mereka untuk membantu negara ini dengan cara mereka yang penuh tantangan itu. Berapa triliun pula yang ditransfer oleh TKW-TKI yang bekerja di negara-negara lain, tentu angkanya akan sangat besar.

Tetapi, siapa di antara kita yang memuliakan mereka? Tidak banyak. Dan mereka barangkali juga tidak ingin dimuliakan. Sekiranya mereka dapat perlindungan sebelum berangkat, di tempat kerja, dan setelah pulang ke Tanah Air, itu sudah lebih dari cukup. Sebagai bagian dari rakyat kecil mereka tidak punya angan-angan yang terlalu jauh. Selamat pergi-pulang, sudah merupakan kebahagiaan bagi mereka. Mereka adalah pahlawan devisa yang sebenarnya.

Khusus untuk Malaysia, ada sekitar 2,4 juta TKW-TKI kita yang mencari rezeki di sana. Mereka dikenal sebagai pekerja yang ulet, kompetitif, sekalipun dibayar murah, seperti diakui juga oleh Bakar. Banyak yang berhasil, di samping yang kandas. Sebagai contoh kecil, ada pemilik dua bus mini di Sumpur Kudus yang disopirinya sendiri ke berbagai kota di Sumatra Barat, adalah sebagai hasil dari jerih payahnya selama bekerja sebagai TKI di Malaysia. Tetapi, yang harus terjun ke laut dan berenang ke pantai karena takut ditangkap polisi, juga tidak kurang jumlahnya. Cerita ini saya dengar dari mereka yang mengalami. Hidup memang penuh warna.

Kita tidak boleh memandang enteng terhadap sesama. Mungkin para pekerja ini akan lebih dulu masuk surga tinimbang mereka atau kita yang tidak jelas misi hidupnya.
Sumber: Republika Online, 7 Maret 2006

21 comments:

abdulah babiwi said...

rakyat indonesia sebenarnya pada salut dan hormat pada mereka yg sedia merantau kat negara lain guna survive...

rakyat indonesia bangga karena ramai diantara mereka berjaya dan mengharumkan nama negara karena dibalik keberhasilan negeri jiran dalam membangun tidak terlepas dari andil pekerja asal indonesia...

bahkan dunia mengakui bahwa pekerja indonesia khusus di bidang konstruksi baik pekerja kasar sampai ke tingkat atas adalah berkualiti baik dan memuaskan...dan hasilnya mereka seringkali terlibat dlm proyek mega dunia dibelahan manapun khususnya middle east....sebab apa? mereka ulet dan gigih tidak seperti rakyat jiran yg lembik dan manja yg takut merantau...

begitu juga nelayan indonesia yg kerapkali dipekerjakan oleh syarikat2 korea maupun japan...sedang nelayan negeri jiran ramai yg jatuh miskin dan beralih profesi menjadi anggota RELA yg tak butuh kriteria dan klasifikasi khusus untuk applynya.

sekali lag... pekerja kasar bukan pekerjaan hina,...,,, sebab mereka ada di negara lain atas kuatnya permintaan negara tersebut yg butuh mereka.. sebab kerajaan meraka tau jika mengandalkan rakyatnya blm boleh sebab malas dan kurang mandiri

pekerja asing bekerja bukan mengemis ... disini ada kontrak yaitu si majikan yg berkewajiban membayar gaji atas pekerjaan yg ditentukannya oleh si pekerja asing tersebut (pekerja kasar)/// jadi disini ada situasi yg saling menguntungkan ...

orang melayu said...

hmmm...

a very smart reply...

how could people be so shallow as seeing physical work as degradating?
most malaysians are moslems. dont they know that Muhammad pbuh sew his cloths with his own hand??? dont they think that each drop of sweat is prayed by the angels so that Allah forgives us who do our own necessities without troubling others?

and one more,
indonesian can do phisical work as well as intellectual work.. dont they now that indonesian students are usually cumlaude graduates in reputable universities in US and Europe or Egypt? even one of the imams in Mecca was from Java?

ah, people..
let's just work hard for each of our countries...

Anonymous said...

Masih mending kami bangga sama TKI kami.
Kalian??
Kalian bangga pulak dengan penyiksaan TKI. Istigfar!!!!

datia kusatsu shi said...

Jika anda merasa Malaysia lebih baik dari Indonesia, mungkin secara perekonomian iya. Jika Malaysia memang negara yang mayoritas muslim, semestinya anda bersyukur dengan keberuntungan Malaysia sekarang. Kesempatan anda untuk beramal terbuka luas. Bukannya menyebabkan negara, masyarakat Anda dengan PASUKAN RELA nya menjadi arogan, sombong dan takabbur.

Ingat lah pepatah, 'hidup itu bak roda yang berputar, sekalinya ia diatas, sekalinya ia dibawah.'

Indonesia tidak mungkin hidup dalam bayang-bayang kejayaan masa Majapahit, Sriwijaya, atau Kerajaan Aceh. Tapi Indonesia harus bergerak untuk bisa menyelesaikan masalahnya. Kritik dan saran serta dukungan dari negeri tetangga, tentu akan banyak membantu Indonesia.

Tapi ingatlah sekarang masa kejayaan bagi Malaysia, bukan tidak mungkin 5 ataw 10 tahun lagi masa yang sulit untuk negeri anda ini.

Jangan Takabbur dan sombong.

Anonymous said...

Using the racist lexicon, Chinks are from China. Japs are from Japan.

Though technically it's more of an insult culture wise to call a Japanese person Chinese, and vice versa.

and the Indonesia owner of this blog is an Idiot.

Anonymous said...

someone please ban this stupid motherfucking fag posting piece of shit

Anonymous said...

this blog was made by chinese 'Singaporean supporter' living in Malaysia,

The chinese have abused and killed many Indonesian maid but always free .
Don't let Melayu unites! For indian and chinese, lets unite!

Anonymous berkata...
the owner of this blog is INDONESIAN. he uses INDONESIAN IP.

December 1, 2007 10:55 PM


kayaknya blog beneran nih kerjaan orang Temasek atau Yahudi di indonesia. ALERT ALERT

Indonesian, not Malingsian said...

Huff..
Yeah, we proud of them, at least they are our own.
But, what about you? Proud of our culture..
Sigh..

Anonymous said...

ada segudang definisi Malay disini.

Orang Melayu Indonesia, kalian adalah ras melayu, bukan ras malay yang malas dan aorag, sebutan british kepada jongos malay.

Buka sendiri website ini, ada segudang definisi Malay.

http://www.urbandictionary.com/define.php…
Cok Lie
Jakarta, Indonesia Reply »
|Report Abuse |#2 14 hrs ago
sekali lagi:

http://www.urbandictionary.com/define.php…
Cok Lie
Jakarta, Indonesia Reply »
|Report Abuse |#3 14 hrs ago
ada juga nih definisi “Malaysian” disini.

Malay njangan marah ke gue yeh… bukan gue yang tulis ini. Marah aja sama webmastertnya.

http://www.urbandictionary.com/define.php. ..

(Gua gak tega copy and paste disini, klik aja sendiri deh…)

Anonymous said...

HEH...dongo!!!
harusnya elo ngaca...
kalo ga ada tuh TKI dari indo yg rela kerja dinegara kaya malay - dimana orang2nya ga punya tata kerama dan sopan santun...
BISA APA tuh malay??
warganya aja bisanya males2an doank
disuruh bikin jembatan aja ga mampu.. ROBOH....!!
kalo ga ada TKI dr indo...
bisa apa tuh malay2???
ga bakalan berdiri tuh bangunan2 megah yg skrg lo punya..!!!

dasarrr....dongo... sombong ga bermorall!!!

Anonymous said...

if there is real malaysian read this, do u accept this person [the writter] as ur nationality?

this person is insane. this blog certainly will make malaysian as a bad party.

so,

don't let this insane abuse the real "MALAYSIAN".

every country have process to be better. both malaysian and indonesian, and also others.

i don't want this blog go more global and violence the real "MALAYSIAN".

i believe malaysia and indonesia are peaceful countries.

for the writter :
think first before u write man !! u want to make ur name of country abused???

mrbig said...

you guys just like a sun of a beach..

hahaha just kidding

bradoks said...

perlu camkan saudara serumpunku malaysia, tidak salah kalau dulu Presiden Soekarno meneriakkan "Ganyang Malaysia" karena memang Saudara serumpunku itu sangat picik.

sieta tea said...

Emangnya kalo jadi bangsa malaysia udah dijamin masuk sorga???????

"Wahai orang-orang yang beriman janganlah satu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan)." (QS 49:11)

Anonymous said...

Malaysia & Indonesia...none of you are better...you're the same after all

nenen ah yg percaya blog beginian said...

hey Fasciolepsis Buski...cari2 tempat aman aje ye! Dah banyak yang nyariin elo tuh...internetan bok ya jgn dikantor, mana penuh bokep virusan gitu lagi...Kekekeke... ;)

Anonymous said...

lu org indonesia jg ya? pasti lu bete bngt liat bangsa lu jd bulan2an di negri org. pdhl qt bisa bngt jd negara adidaya n superior spt cita2 bung Karno dulu.
kalopun kirim TKI, dibayarnya pk standard expatriat. pake dollar US!!

hm... gw ngerti bngt perasaan lo man.

sayesaya said...

kawan,
gua dah tinggal di dua negara ini. samalah cacatnya & baiknya. dasarnya yg malaysia benci tapi rindu ama Indonesia (potong kuping gue kalo 3-5 keturunan dia gak dari indon). untung aja che det dari Pakistan. perlu kartu sapa yg dibuka? sama je lah kitorang, rasuah pun banyak kat semua kementrian kita, bohsia cari dato sri, JAIS pening kepala couple kat KL, jenayah dah bukan indon yang buat. hang kena pikiak MELAYU... yang semakin tertinggal dengan INDIA & CINA... pikirrr.. pikir.. dan pikirr... (ato jangan2 yg buat blog ini CINA yaa??? )

Anonymous said...

this is bullshit!! fuck malaysian.. or malingsial.... indonesian is the best..

AKU cinta ISLAM said...

ASTAGHFIRULLAH...
awakMUSLIM BUKAN????
malaysia KAFIR SEMUA YA?

Anonymous said...

malaysian is a fag! go fck ur self!